Sejarah Prodi
Pendidikan Agama islam
2024
Berdirinya Program Studi Pendidikan Agama Islam
Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan pilar utama dalam sejarah perkembangan Institut Agama Islam Syubbanul Wathon (ISW). Pendirian prodi ini didorong oleh cita-cita luhur Yayasan Syubbanul Wathon Magelang untuk melahirkan tenaga pendidik profesional yang memiliki kedalaman spiritual pesantren dan integritas kebangsaan. Legalitas operasional prodi ini secara resmi ditetapkan melalui Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 116 Tahun 2024 tentang Izin Penyelenggaraan Program Studi Pendidikan Agama Islam untuk Program Sarjana.
Keputusan strategis tersebut ditetapkan di Jakarta pada tanggal 15 Januari 2024 oleh Direktur Jenderal Pendidikan Islam atas nama Menteri Agama Republik Indonesia, Bapak Muhammad Ali Ramdhani. Dengan terbitnya izin ini, Prodi PAI memiliki landasan hukum yang kokoh untuk menyelenggarakan pendidikan kependidikan Islam yang berkualitas. Keberadaan prodi ini semakin diperkuat seiring dengan transformasi institusi menjadi Institut pada tanggal 22 September 2025 melalui KMA Nomor 1509 Tahun 2025 yang ditandatangani oleh Menteri Agama, Bapak Nasaruddin Umar.
Tanda kepercayaan masyarakat terhadap kualitas Prodi PAI terlihat nyata pada momentum penerimaan mahasiswa baru angkatan pertama. Pada Semester Gasal Tahun Akademik 2024/2025, Prodi PAI resmi beroperasi dengan mendidik 28 mahasiswa yang menjadi pionir sekaligus duta pertama bagi fakultas. Angkatan perdana ini memikul amanah bersejarah untuk menjadi generasi pendidik agama Islam yang moderat, inovatif, dan mampu melakukan harmonisasi antara tradisi pesantren dengan kemajuan pendidikan modern.
Kini, di bawah naungan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Prodi PAI terus berkomitmen memenuhi standar nasional pendidikan tinggi (SN-Dikti) dalam setiap aspek tridarma. Dengan dukungan fasilitas pembelajaran yang memadai dan kurikulum yang responsif terhadap dinamika zaman, Prodi PAI melangkah mantap menuju visi tahun 2032. Sejarah prodi ini akan terus diukir melalui dedikasi dalam mencetak guru-guru agama Islam yang tidak hanya menguasai literatur keagamaan secara mendalam, tetapi juga terampil dalam mengelola pembelajaran berbasis teknologi informasi.
